Andhy Fathoni

tentang sebuah perjalanan…

PLTN : Sudahkah kita mampu ??

with 6 comments

Polemik yang mendera bangsa Indonesia di bidang energi terasa semakin pelik. Berbagai kebijakan energi yang diterapkan pemerintah tidak mampu meyakinkan rakyat. Sementara itu, tuntutan pemenuhan kebutuhan energi semakin mendesak. Setelah melalui berbagai kajian mendalam, pemerintah memutuskan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pembangkit ini direncanakan akan dibangun di daerah pegunungan Muria. Sebuah daerah berbukit di sebelah utara kota Jepara. Pegunungan Muria dianggap paling memenuhi syarat sebagai tempat berdiri dan beroperasinya PLTN. Selain karena aman dari gempa, daerah Muria juga sangat dekat dengan sumber air (Laut Jawa) yang dibutuhkan untuk mendinginkan reaktor nuklir setelah ‘lelah’ bekerja. Dengan dibangunnya PLTN, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil yang selama ini diandalkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita mampu membangun PLTN dan menanggung segala resiko yang mungkin terjadi?? Sudah bukan rahasia umum jika PLTN sampai saat ini masih dipertanyakan sistem keamanannya. Tragedi Chernobyl, dan Three Mile Island di Amerika Serikat cukup dijadikan bukti bagi masyarakat untuk menolak PLTN. Bahkan, bom atom yang meluluhlantakkan kekuatan Jepang di Perang Dunia kedua pun belum lekang dari memori. Tak ayal, penolakanpun terjadi dimana-mana. Terlebih lagi bagi warga Kudus dan Jepara yang merasa telah dijadikan ‘kelinci percobaan’ bagi proyek pemerintah ini. Mereka dengan lantang menyuarakan suara hati melalui demo yang digelar di berbagai tempat dan (entah mengapa) mengatasnamakan diri pembela lingkungan.

 Sumber energi alternatif

Beberapa ahli mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya masih memiliki alasan untuk tidak terburu-buru dalam membangun PLTN. Salah satunya adalah dengan mengupayakan pengembangan teknologi energi terbarukan. Apalagi, Indonesia memiliki sumber daya terbarukan yang lebih dari cukup untuk dikembangkan. Fakta di lapanganpun menegaskan demikian. Garis pantai terpanjang kedua di dunia memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki potensi di bidang energi angin. Kenyataan bahwa negara kita dilalui garis katulistiwa membuat prospek energi matahari sangat cerah untuk dikembangkan. Belum lagi sumber daya bahari disertai sumber air mengalir yang melimpah memperlihatkan bahwa energi biodiesel dan mikrohidro bukanlah sebuah mimpi. Jika masih kurang, deretan gunung api mengindikasikan Indonesia memiliki sumber panas bumi yang besar bahkan merupakan yang terbesar di dunia. Hanya saja, bukan perkara mudah mengubah sumber daya sebesar itu menjadi energi yang bisa dimanfaatkan. Panas Bumi misalnya. Regulasi dan nilai investasi yang terlalu tinggi membuat investor tak tertarik untuk bermain lebih jauh di bidang ini. Bahkan untuk pengembangan solar cell atau energi mataahari, kita harus siap-siap untuk tak pernah mendapatkan modal kita kembali. Untuk membangun suatu windfarm (ladang kincir angin), ternyata bukan hanya dibutuhkan kecepatan angin yang memadai. Ketersediaan bahan baku dan kelengkapan infrastruktur juga diperlukan. Sampai saat ini, baru Mikrohidro dan Panas Bumi yang secara nyata dikembangkan bukan sekedar bentuk penelitian. Perusahaan energi Chevron dan PT Geodipa Energi mengambil langkah berani dengan terjun pada penambangan panas bumi. Sementara itu, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sudah dikembangkan di beberapa daerah. Salah satunya adalah di Papua Barat dimana PLTMH dijadikan andalan dalam memasok listrik.

Kembali ke PLTN

Sulitnya mengembangkan energi terbarukan masih ditambah dengan sulitnya energi terbarukan memenuhi kebutuhan listrik dalam jumlah langsung secara instan. Hal ini memaksa kita kembali berpaling pada PLTN. Berbeda dengan sumber energi lain, dengan sedikit bahan bakar, energi yang dihasilkan PLTN sangat besar. 1 kg bahan bakar nuklir dapat menghasilkan energi yang setara dengan 12.000 barel minyak bumi. Selain itu, harga bahan bakar nuklir (uranium dan plutonium) juga sangat murah. Dari segi tenaga ahli, pendirian program studi Teknik Nuklir di Fakultas Teknik Unversitas Gadjah Mada pada tahun 1978 menjadi sebuah jaminan. Hanya saja, banyak masyarakat bertanya, bisakah semua itu menjadi garansi keamanan PLTN?? Pengalaman kita sampai saat ini baru sebatas riset. Apakah dengan berbekal pengalaman itu cukup untuk menghandle sebuah PLTN yang menyimpan bahaya begitu besar?? Terjadinya kebocoran radioaktif pada instalasiPLTN di Kashiwazaki di Jepang setelah terkena gempa semakin menambah kekhawatiran masyarakat. Lantas bagaimanakah pemerintah mencoba meyakinkan masyarakat bahwa Muria aman dari gempa sementara ingatan kita masih segar dengan gempa Jogja?? PLTN memang bisa memberi kita keuntungan besar. Namun dibalik semua itu kemampuan kita meminimalkan bahaya yang munkin terjadi masih banyak diragukan. Lalu, sudahkah kita mampu??

About these ads

Written by fathonezic

July 27, 2007 at 6:46 pm

Posted in Teknik Fisika

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. energi alternatif bukan bagianmu. itu bagian laporan utama. Sumbernya dari mana aja??bukan cuma pengetahuan dari sang penulis.ingat ini berita bukan opini!! keraguan – keraguan ditulisanmu dijawab oleh sumber, jadi cukup menenangkan keraguan pembaca.kalo bisa buat satu tulisan lagi tentang teknis PLTN dengan bahasa populis. Paragraf pembukanya bolehlah… buat lagi ya yang bukan menambah keragu – raguan tapi sedikit banyak menjawab pertanyaan…deadlinenya masih lama kok… SEMANGAT !!

    dian

    July 28, 2007 at 10:47 am

  2. menurut aq sich PLTN itu g ada salahnya kl dterapin di INA. selain ntar negara qt lbh maju, pastinya mau g mau orang2 pada lbh berpikir utk lbh maju………..sory klmatnya agk bngng

    alfian

    September 2, 2007 at 10:08 am

  3. bagus.,..,..,.bagus..,.,..,.,,,.

    aeie

    September 14, 2007 at 8:25 am

  4. info PLTMH di IJB—yang mau di bangun atau ada disana, di mana ya BOss ??? Yang B saja??
    Kalau ada info, tlng kash tahuu ya, tx. Take care….

    geape

    September 24, 2007 at 2:20 am

  5. PLTMH sudah dikembangkan d salah satu kabupaten pemekaan di Papua Barat. Tapi saya lupa kabupatennya. Kalau tidak salah mereka sudah membangun soalnya, karena daerah yang berbukit transmisi listrik sangat sulit sehingga bupatinya mengembangkan mikrohidro. Sekedar info, PLTMH sedang marak2nya. Beberapa waktu lalu, jurusan saya, Teknik Fisika UGM membangun proyek PLTMH di Kalimantan dan dijadikan tugas akhir oleh 2 orang mahasiswa. Saat ini, kalau tidak salah jurusan kami juga sedang mendapat proyek PLTMH di 10 kota/daerah . Yang sedang diprioritaskan adalah di NTT.

    al Fatin

    September 26, 2007 at 1:57 am

  6. selamat karena anda adalah sahabat bumi.
    barangkali beberapa catatan pendek saya ( 8 argumen sederhana menolak PLTN) di blog saya ada gunanya.

    salam hangat
    andre

    ruangasa

    January 20, 2008 at 3:07 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: